Ustadz Abu Ghozi di Bukit Hijau Muara Enim: Jangan Mengira Allah Lengah terhadap Orang Zalim
On November 02, 2026
Pewarta: Iwan Brata Darma
MUARA ENIM, LENSA DESA – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia, manusia kerap dihadapkan pada berbagai ujian, mulai dari kesulitan ekonomi hingga ketidakadilan. Dalam kondisi tersebut, keyakinan kepada Allah SWT menjadi penguat hati agar tetap sabar, jujur, dan tidak membalas kezaliman dengan kezaliman.
Pesan mendalam itu tercermin dalam tausiyah Ustadz Abu Ghozi yang mengangkat makna firman Allah SWT dalam Al-Qur'an, Surah Ibrahim ayat 42:
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ
Artinya: “Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim.”
Ayat tersebut mengingatkan umat Islam bahwa tidak ada satu pun perbuatan manusia yang luput dari pengetahuan Allah SWT. Setiap kezaliman, ketidakjujuran, dan hak orang lain yang dirampas akan berada dalam pengetahuan serta keadilan-Nya.
Bagi orang yang sedang menghadapi ketidakadilan, pesan ini menjadi pengingat agar tidak kehilangan harapan. Ketika kebenaran belum mendapatkan tempat dan usaha yang jujur belum membuahkan hasil, seorang Muslim tetap diajak untuk menjaga iman, memperbaiki ikhtiar, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
Ustadz Abu Ghozi juga mengingatkan pentingnya memahami nilai rububiyah, yakni keyakinan bahwa Allah SWT adalah Rabb yang menciptakan, memelihara, dan mengatur seluruh kehidupan.
Keyakinan tersebut semestinya melahirkan ketenangan, bukan keputusasaan. Kesulitan ekonomi bukan alasan untuk meninggalkan kejujuran, sementara keberhasilan duniawi bukan pembenaran untuk merendahkan atau menzalimi orang lain.
Ketenangan sejati pun tidak semata-mata diukur dari banyaknya harta, tingginya kedudukan, atau pujian manusia. Lebih dari itu, ketenangan tumbuh melalui keimanan, ketulusan beribadah, dan hubungan yang kuat dengan Allah SWT.
Jangan Membalas Kezaliman dengan Kezaliman
Pesan penting lainnya adalah ajakan untuk tetap menjaga akhlak ketika menghadapi kesulitan. Orang yang merasa dirugikan hendaknya tetap menempuh jalan yang benar, memperjuangkan haknya dengan cara yang baik, serta tidak membiarkan kemarahan mendorongnya melakukan perbuatan yang melanggar ajaran agama.
Ibadah juga tidak seharusnya berhenti pada rutinitas atau simbol semata. Iman dan tauhid harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, dan sikap adil terhadap sesama.
Pada akhirnya, pesan Surah Ibrahim ayat 42 mengajak setiap Muslim untuk tidak berputus asa ketika menghadapi ketidakadilan. Allah SWT mengetahui segala sesuatu, dan manusia hendaknya terus menjaga kebenaran serta memperbaiki diri.
Sebab, ketika manusia tidak melihat keadilan hari ini, bukan berarti keadilan Allah telah hilang.






































