Ustadz Abu Ghozi Mencari Ketenangan Dan Jati Diri Sejati Di Bukit Hijau Jauh Dari Keramaian
On April 28, 2026
Pewarta : Iwan Brata Darma
Lensa desa. Com
beliau mendaki sebuah bukit yang hijau, sunyi, jauh dari riuh rendah manusia. Bukan untuk bertapa, tapi untuk bertanya:
_“Di mana ketenangan itu? Di mana jati diri sejati bersembunyi?”
_
Di atas bukit itu, Ustadz Abu Ghozi merenung dalam tentang sebuah kegelisahan ruhani.
Nilai-nilai Robbubiyah– pengakuan bahwa Allah adalah Rabb, Pengatur, Pemelihara
– sering kali hanya berhenti di lisan. Tidak turun menjadi nilai Insaniyah dalam laku sehari-hari.
“Kalimat sakralnya tidak hilang. Adzan masih berkumandang. Ayat masih dilantunkan. Tapi substansi ruhnya kosong.
Jasmaninya shalat, ruhnya tidak mi’raj. Lidahnya dzikir, hatinya tidak hadir,” tutur Ustadz Abu Ghozi lirih, menatap lembah di bawah bukit.
Beliau lalu mengutip petuah Sunda kuno yang dalam maknanya:
Kawung mabur curulukna, samak langit pandana. Ciamis tinggal paitna, Ciherang tinggal kiruhna. Resi langit ajina, pandita hilang konarana, kadiruk ku hawa nafsuna.”
_Pohon aren terbang hanya tinggal mayangnya, langit-langit pandan hanya tinggal tikarnya. Ciamis hanya tinggal pahitnya, Ciherang hanya tinggal keruhnya. Resi langit hanya tinggal namanya, pandita hilang wibawanya, kalah oleh hawa nafsunya.
_
“Ini peringatan,” tegas Ustadz Abu Ghozi “Ketika agama hanya jadi simbol, ulama hanya jadi gelar, dan ibadah hanya jadi ritual tanpa ruh, maka yang tersisa cuma kulitnya. Pahitnya masih ada, keruhnya masih ada, tapi manis dan jernihnya sudah pergi.
Digerus hawa nafsu.”
Pencarian jati diri di bukit hijau itu adalah ikhtiar Ustadz Abu Ghozi untuk mengembalikan ruh ke dalam jasad agama.
Bahwa Tauhid Robbubiyah harus melahirkan Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma wa Sifat yang hidup.
Bukan sekadar hafal, tapi menjelma akhlak. Bukan sekadar ucap, tapi menjadi laku.
“Jati diri sejati bukan ditemukan di keramaian pujian, tapi di kesunyian saat kita jujur dengan Allah.
Ketenangan bukan di puncak popularitas, tapi di lembah sujud yang khusyuk,” tutupnya sebelum turun bukit, membawa oleh-oleh perenungan untuk umat.




















































