Pewarta: Iwan Brata Darma
Lensa desa. Com
menjadi cermin semangat pantang menyerah para kuli tinta di Kab. Muara Enim. Tanpa meja redaksi mewah, mereka meracik berita dari denyut nadi masyarakat.
Di depan jejeran tabung gas pink dan etalase minimarket, lima sosok gondrong ini duduk bersila. Bukan rapat direksi, tapi rapat redaksi jalanan.
Mereka adalah pejuang informasi dari Lubai Ulu Tak ada AC, tak ada kopi mahal. Yang ada hanya tekad, catatan lusuh, dan HP yang jadi senjata utama. Satu hisap rokok, satu ide berita.
Satu teguk air, satu paragraf tersusun. Begitulah cara mereka bekerja. Inspirasi tak dicari di hotel berbintang, tapi di teras toko, di warung kopi, di tengah obrolan warga yang resah dan berharap.
"Mau hujan, mau panas, berita harus tetap jalan," ucap salah satu dari mereka sambil mengibaskan rambut.
"Kantor kami ya di mana warga berada. Karena tugas jurnalis itu menyambungkan suara rakyat ke telinga penguasa."
Lima kepala gondrong ini jadi bukti bahwa penampilan boleh nyentrik, tapi karya harus otentik. Mereka bisa jadi tak punya ruangan berpendingin, tapi hati mereka sejuk karena tahu tulisannya bermanfaat.
Mereka bisa jadi tak terkenal se-Indonesia, tapi nama mereka harum di Lubai karena selalu hadir saat warga butuh didengar.
Gading retak karena diinjak stom. Berita bisa salah karena kurang data.Tapi lima jurnalis ini mengajarkan satu hal: selama mau duduk bareng, mau dengerin, mau turun ke lapangan, maka berita yang lahir akan selalu jujur dan berpihak.
Mereka bukan sekadar wartawan. Mereka adalah saksi, penyambung lidah, dan penjaga ingatan bagi masyarakat Lubai.
Dari teras minimarket ini, mereka membuktikan: jurnalisme sejati tak butuh gedung tinggi, cukup hati yang mau peduli dan rambut yang siap kena angin lapangan.
Previous
« Prev Post
« Prev Post
Next
Next Post »
Next Post »
