Pewarta: Iwan Brata Darma
Lensa desa. Com
Kunjungan berlangsung dalam format dialog egaliter. Dokumentasi memperlihatkan interaksi tanpa jarak hierarkis: duduk lesehan, berdiskusi terbuka, dengan kesederhanaan jamuan sebagai simbol kebersamaan.
Pendekatan ini merefleksikan transformasi kerja Polri yang bertumpu pada pendekatan humanis dan kultural.
Sinergi Ulama-Aparat untuk Ketahanan Muara Enim, khususnya Ustadz Abu Ghozi menyambut baik kunjungan tersebut dan menilai dialog langsung dengan ulama lokal sebagai langkah strategis menjaga stabilitas di tingkat akar rumput.
“Kami mengapresiasi kunjungan tim Densus 88 yang menjunjung nilai humanis.
Di balik tugas pokok menjaga keamanan negara, terdapat sosok aparat yang membumi dan mudah bersinergi dengan ulama serta masyarakat.
Ketika ulama dan aparat duduk dalam satu majelis di Desa Aur ini, maka terbangunlah kohesi sosial yang kuat, khususnya untuk Kabupaten Muara Enim,” ujarnya.
Beliau menegaskan bahwa stabilitas Muara Enim tidak bisa dilepaskan dari peran aktif tokoh agama dan masyarakat dalam menangkal paham yang bertentangan dengan nilai Pancasila.
Pesan Kebangsaan untuk Sumsel, umumnya Diskusi menyoroti tiga pilar: kerukunan, toleransi, dan partisipasi kolektif.
Ustadz Abu Ghozi menekankan bahwa keamanan tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada aparat, melainkan harus menjadi kesadaran bersama seluruh elemen bangsa.
“Yayasan Pelita Bersatu, aparat, dan masyarakat Lubai harus menjadi satu ekosistem.
Jika nilai persatuan dan kebangsaan ini kita jaga dari hulu, maka Muara Enim akan tetap aman.
Dan jika setiap kabupaten di Sumsel meneladani sinergi ini, maka insyaAllah Sumatera Selatan umumnya akan menjadi rumah yang damai dan kondusif bagi seluruh warganya,” pungkasnya.
Kunjungan ditutup dengan doa bersama sebagai ikhtiar moral untuk menjaga harmoni, stabilitas, dan kemajuan Bumi Serasan Sekundang serta Provinsi Sumatera Selatan.
Previous
« Prev Post
« Prev Post
Next
Next Post »
Next Post »



