Pewarta: Iwan Brata Darma
Lensa desa. Com
Ibu Aisah terekam khusyuk menabur bunga dan berdoa di pusara ibunda tercinta yang berbalut keramik biru.
Tangannya menyentuh nisan dengan lembut, matanya tertunduk, bibirnya komat-kamit memanjatkan doa.
Gading retak karena diinjak stom. Hati anak retak karena ditinggal ibu selamanya. Namun di atas pusara itu, bakti tak pernah mati.
Taburan bunga merah jambu, batu koral putih, dan rumput hijau di atas makam adalah simbol rindu dan doa seorang anak.
Meski raga sang ibu telah tiada, doa Ibu Aisah akan terus mengalir menjadi penerang di alam kubur.
Dalam Islam, doa anak yang shalih untuk orang tuanya adalah amal yang tak terputus.
Ziarah yang dilakukan Ibu Aisah ini adalah wujud birrul walidain — berbakti kepada orang tua — yang pahalanya terus mengalir untuk almarhumah.
Tradisi nyekar ke makam orang tua ini masih kuat dijaga warga Lubai, Muara Enim.
Pengingat bahwa surga itu di bawah telapak kaki ibu, dan meski beliau telah pergi, memuliakannya tak boleh berhenti.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa ibunda Ibu Aisah, melapangkan kuburnya, meneranginya dengan cahaya, dan menempatkannya di surga Firdaus.
Untuk Ibu Aisah, semoga diberi ketabahan dan keistiqamahan dalam mendoakan.
Previous
« Prev Post
« Prev Post
Next
Next Post »
Next Post »
