Berita Terbaru

Tak Sekadar Touring: Kisah Ustadz Abu Ghozi Jemput Inspirasi Dakwah di Jalanan Lubai*






Pewarta: Iwan Brata Darma
Lensa desa. Com-

MUARA ENIM – Di balik helm biru dan deru motor Jupiter MX merahnya, tersimpan niat tulus seorang dai. Ustadz Abu Ghozi terlihat menyusuri jalanan Lubai, Kab. Muara Enim, Sabtu 2 Mei 2026.

 Bukan untuk pelesiran, tapi untuk menjemput inspirasi dakwah dari denyut nadi kehidupan warga.

 Dengan jaket hitam, tas ransel biru di punggung, dan sarung tangan kuning yang mencengkeram stang motor, Ustadz Abu Ghozi tampak khusyuk menatap jalan di depannya.

 Jalan beton yang ia lewati bukan sekadar aspal dan debu, tapi hamparan kisah manusia yang ingin ia dengar dan pahami.

 "Inspirasi dakwah itu tidak datang dari balik meja saja," tutur Ustadz Abu Ghozi saat ditemui di sebuah persimpangan Desa Menanti, Kec. Lubai. 

"Ia ada di senyum petani yang pulang dari Kebun , di keluh kesah ibu-ibu di pasar, di tawa anak-anak yang bermain. 

Kita harus turun, merasakan, baru bisa bicara ke hati." Bagi Ustadz Abu Ghozi  motor dan helm adalah "sajadah berjalan". Di atas jok motor itulah ia sering merenung, merangkai kata, dan memohon petunjuk Ilahi agar setiap tausiyah yang disampaikan kelak benar-benar menjadi penyejuk, bukan sekadar pengisi waktu.


 Warga yang mengenalnya menyebut Ustadz Abu Ghozi sebagai dai yang membumi. "Beliau nggak pernah canggung duduk di warung kopi sama kami. 

Dengerin curhat, baru kasih nasihat. Jadi nasihatnya tuh ngena, karena beliau ngerti dulu rasanya jadi kami," ucap Pak Marzuki, warga Lubai.

 Perjalanan mencari inspirasi ini tak selalu mulus. Terik, debu, dan jalan berbatu kerap jadi teman. Tapi bagi Ustadz Abu Ghozi, lelah di jalan adalah bagian dari ibadah.

 Karena ia percaya, gading pun bisa retak kalau terus diinjak. Apalagi hati manusia yang rapuh, butuh sentuhan dakwah yang tulus dan memahami.

Ustadz Abu Ghozi mengajarkan kita bahwa dakwah bukan tentang mimbar yang tinggi, tapi tentang hati yang mau merendah. 

Ia tak menunggu jamaah datang, tapi ia yang mendatangi, mendengar, dan merasakan. Sebab inspirasi terbaik lahir dari empati, dan empati lahir dari perjalanan.


 

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments